5 Tips Mengatasi Rasa Penasaran Anak Terhadap Fenomena Challenge


Dari hari ke hari ada saja challenge baru yang bertebaran di luar sana, mulai dari Passed Out Challenge, Fire Challenge, Blue Whale Challenge, Kiki Challenge, Momo Challenge hingga jenis challenge berbahaya lainnya.

Tak jarang challenge yang dimainkan ini bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Seolah ingin dianggap bisa dan mampu menyelesaikan keselamatan pun begitu dihiraukan.

Mungkin tidak hanya orang dewasa saja yang selalu penasaran dengan hal-hal baru, anak-anak pun demikian. Apalagi jika sudah menjadi tren tersendiri dan diikuti teman-teman sepermainannya.

Beragam alasan mungkin dirasakan si Anak yang ingin mencoba segala challenge yang ada seperti penasaran ingin mencoba, merasa tertantang, ingin dibilang keren hingga ingin mengikuti jejak teman-temannya yang sudah mencoba challenge tersebut. Padahal sebagai orangtua, perlu sekali mengajarkan si Anak tentang sebuah pandangan mengenai apakah yang diikuti itu baik ataukah buruk.

Banyaknya challenge yang ada di sosial media membuat banyak orangtua cemas, takut kalau si Anak mengikuti hal-hal aneh yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Untuk mengatasi rasa penasaran yang sewaktu-waktu terjadi pada si Anak karena tren challenge di luar sana, yuk perhatikan beberapa tips dari Psikolog Alexandra Gabriella A., M.Psi, C.Ht. ini. Semoga bisa membantu ya.

1. Kenali reaksi anak

Reaksi setiap orang terhadap sesuatu itu pasti berbeda-beda, begitu juga apa yang dirasakan anak-anak.

Jika si Anak sudah pernah menonton atau melihat tren challenge baru yang bertebaran di sosial media. Anda bisa lho menanyakan bagaimana perasaannya setelah melihat itu semua.

Berikan waktu kepadanya untuk bercerita mengenai reaksi atau pernyataan dirinya terhadap challenge tersebut. Usahakan untuk tidak memotong pembicaraannya. Dengarkan dulu apa yang ingin diutarakannya karena ini bisa menjadi gambaran proses berpikir si Anak.

Saat si Anak mengganggap tren challenge sekarang ini sesuatu yang menarik bahkan membuat dirinya ingin mencoba, berarti inilah yang harus Mama kenali. Cari tahu sebenarnya kenapa si Anak ingin melakukan challenge tersebut, apakah merasa tertantang, penasaran atau ingin merasa keren?

Kalau memang karena itu alasannya, Mama harus bisa memberikan penjelasan kepadanya jika hal itu tidak baik dan bisa membahayakan. Sekarang waktunya Mama mulai memutar otak untuk membuat challenge sendiri dengan versi yang labih aman ketika dimainkan.

2. Mencoba membuat challenge sendiri

Sebagai orangtua perlu sekali menyadari kalau banyak tren challenge yang ada sekarang bisa dikatakan tidak masuk akal untuk dilakukan ya.

Dalam upaya menghindari si Anak tidak mengikuti jejak tren challenge saat ini, Anda bisa lho berinovasi membuat sebuah challenge sendiri. Anda bisa membuat challenge yang jauh lebih menarik dan tentunya aman saat dilakukan si Anak.

Dengan sesuatu berinovasi membuat challenge yang memiliki keunikan tersendiri, si Anak pasti akan lebih tertarik dengan challenge yang Mama buat dibandingkan mengikuti tren challenge di luar sana.

Perlu diingat juga kalau tidak hanya sekedar membuat challenge yang seru ya. Usahakan untuk membuat tantangan yang memberikan banyak pelajaran pada si Anak. Contoh sederhanya seperti tantangan untuk berbuat baik, tantangan memasak di dapur, tantangan mendapat nilai yang memuaskan di sekolah dan banyak tantangan lainnya.

Selain si Anak menjadi sosok yang berani menghadapi tantangan, dirinya juga punya modal pembelajaran dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik. 

3. Ingatkan kalau tidak semua tren harus diikuti

Seiring berjalannya waktu pasti akan ada banyak tren baru yang bermunculan, entah itu berdampak positif atau negatif untuk si Anak.

Untuk mengantisipasi si Anak mengikuti perkembangan yang ada di hadapannya, Anda harus bisa menjelaskan bahwa tidak semua tren itu harus diikuti. Bukan berarti si Anak mengikuti teman-temannya dan harus melakukan tindakan yang penuh resiko hanya karena ingin mendapatkan perhatian publik.

Ingatkan padanya kalau tidak mengikuti tren, bukan berarti tidak keren. Tanamkan pola pikir si Anak mengenai ada banyak cara yang bisa membuatnya lebih keren, diakui bahkan dipuji banyak orang.

Dengan begini, si Anak pelan-pelan akan belajar bijak dalam menghadapi segala pilihan yang ada. Kemampuan dirinya bisa diasah melalui pilihan seperti ini lho.

Si Anak akan lebih menilai sesuatu dari dua sisi, apakah ini baik untuk dilakukan atau justru buruk sehingga perlu dihindari. Yuk, ajarkan si Anak mulai lebih belajar bijak agar pola pikirnya semakin matang!

4. Lebih menunjukkan bakat daripada mengikuti tren

Beragam challenge yang ada beredar di sosial media membuat semua orang ingin melakukannya, begitu juga dengan anak-anak.

Sebelum hal itu terjadi dan membahayakan diri si Anak, ada baiknya mengarahkan minat dan bakat daripada mengikuti tren yang belum tentu berdampak positif. Berikan pengertian ke si Anak kalau untuk menjadi keren itu tidak perlu melakukan hal-hal yang membahayakan.

Kalau si Anak ingin merasa lebih diakui oleh teman-temannya sebayanya, Anda bisa mengarahkan dirinya untuk lebih menggali minat dan bakatnya. Melatih segala kemampuan yang ada hingga si Anak lebih bisa berprestasi, sehingga dirinya akan merasa bangga dan diakui kemampuannya oleh orang lain.

Namun, jika si Anak membutuhkan sebuah tantangan, Anda bisa lho menantang dirinya untuk lebih baik di segala aktivitasnya. Sesekali tantang si Anak untuk beraktivitas dan berpetualang di luar rumah, seperti mengikuti kegiatan outbound. Dari kegiatan yang satu ini, si Anak pasti memiliki tantangan tersendiri dan berusaha menunjukkan kalau dirinya merasa mampu.

5. Memberikan gambaran tentang orang yang gagal melakukan challenge

Namanya anak-anak pasti masih memiliki rasa penasaran yang tinggi. Apalagi kalau dirinya belum benar-benar mencoba sendiri tren challenge yang sedang hits saat ini.

Jika si Anak masih sesekali merasa penasaran ingin mencoba, Anda perlu menjelaskan kembali kalau hal-hal seperti ini hanya untuk tontonan saja. Kalau si Anak melakukannya sendiri bisa akan sangat berbahaya dan beresiko.

Sesekali mungkin Anda perlu menunjukkan beberapa video orang lain yang gagal melakukan challenge tersebut. Bila si Anak melihatnya sendiri secara langsung, ini akan berguna sebagai bahan pertimbangan agar si Anak kembali berpikir berkali-kali sebelum melakukannya.

Itulah beberapa tips yang bisa Mama lakukan saat anak-anak di rumah mulai merasa penasaran terhadap beragam fenomena challenge di sosial media. Sikap proaktif Anda dalam mengatasi rasa penasaran si Anak perlu dilakukan dengan harapan dirinya tidak salah langkah.

Sekarang waktunya orang tua lebih up to date dengan media sosial agar tidak ketinggalan informasi terbaru, termasuk challenge yang justru akan membahayakan anak-anak. 

 

Sumber : www.popmama.com

Penulis : Dimas Prasetyo

Artikel Kesehatan