Cinta Atau Posesif ???


posesif“I want you, and the thought ot anyone else having you is like a knife

twist in my dark soul” (Christian Grey)

 

Apakah pembaca masih ingat berita tentang pria yang menyiram mantan kekasihnya dengan air keras karena putus cinta? Tentu sangat menyeramkan, kekerasan tersebut dilakukan atas nama cinta. Padahal, cinta itu seharusnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.

Bagaimana dengan posesif? Memang istilah posesif dan cinta sejati telah dimaknai secara samar, terutama oleh orang-orang yang sedang dilanda cinta. Istilah posesif sendiri berasal dari kata kerja Bahasa Inggris, "to possess", yang berarti “untuk memiliki”. Perilaku yang ditunjukkan bertujuan menguasai pasangan untuk dimiliki seorang diri. Kebanyakan orang yang posesif akan melakukan kekerasan, baik fisik maupun verbal, terhadap pasangannya ketika mereka merasa pasangannya terbagi dengan orang lain, baik teman ataupun keluarga pasangannya. Tidak jarang pula yang bahkan mengekang dan mengatur segala aktivitas yang dilakukan oleh pasangannya.

Banyak orang yang menganggap bahwa posesif adalah sekedar kecemburuan semata. Perilaku yang ditunjukkan dengan menanyakan keberadaan, aktifitas, ataupun keberadaan orang yang ada di sekitar pasangan masih dapat dianggap wajar jika dirasa tidak merugikan ataupun menyakiti si pasangan. Namun, seseorang dikategorikan posesif bila mereka melakukan hal tersebt secara ekstrim (baik frekuensi yang sangat sering, respon yang berlebihan, atau cara bertanya yang cenderung menyudutkan).

 Ibara kata, seseorang yang berpasangan dengan seorang posesif akan merasa sangat tidak nyaman dan terkekang, namun seperti tidak dapat berbuat apa-apa karena perilaku si posesif akan terus mengejar dan menuntut penerimaan ketika mendapatkan penolakan atau diputuskan. Mereka dapat saja meneror, membuntuti, bahkan mengancam untuk menyakiti diri mereka sendiri jika pasangannya tidak mau menerima “cinta” mereka. Kebayang kan gimana rasanya?

Perilaku posesif sendiri erat kaitannya dengan tipe kepribadian ambang (borderline personality). Ciri-ciri dari kepribadian ambang yang mendukung adanya perilaku posesif adalah ketakutan yang sangat kuat akan rasa ditinggalkan atau ditolak. Orang-orang dengan kepribadian ambang juga cenderung memiliki pemikiran yang terbatas antara “hitam” dan “putih”: cinta atau benci, pacar/teman atau musuh. Selain itu, orang-orang dengan kepribadian ambang cenderung memiliki pandangan yang dapat berubah drastis terhadap orang lain, yaitu pandangan yang sangat ideal dan sempurna atas orang lain dapat berubah memandang orang tersebut dengan hinaan dan kebencian. Maka dari itu, seringkali orang-orang yang posesif akan

abuse

 membenci mantan kekasihnya ketika hubungan mereka (akhirnya) berakhir, bahkan menjelekan mereka ataupun berani menyebarkan foto-foto atau cerita “pribadi” dengan tujuan untuk menjatuhkan harga diri mantan pasangannya.

Kepribadian ambang sendiri memiliki komorbiditas dengan kepribadian antisosial, yaitu seseorang yang tidak peduli bahkan melanggar hak-hak orang lain. Orang-orang dengan kepribadian antisosial tidak peduli pada norma dan peraturan yang ada, serta bertindak tanpa pertimbangan hingga dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain. Mereka hanya melakukan sesuatu demi keuntungan mereka sendiri tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Nah, itulah mengapa perilaku posesif kadangkala disertai dengan kekerasan ekstrim ketika orang tersebut tidak mendapatkan cinta yang mereka idamkan. Perbuatan tersebut tidak semata-mata didasari keinginan untuk menyakiti, namun lebih pada pemikiran untuk membuat si “pasangan idaman” tidak diinginkan lagi oleh orang lain, sehingga hanya mereka yang dapat memilikinya.

Bagaimana? Menyeramkan, bukan? Berhati-hatilah memilih pasangan Anda. Jika Anda telah merasa sedang jatuh di dalam hubungan yang tidak sehat, janganlah ragu untuk bersikap tegas. Anda dapat pula mencari bantuan profesional yang dapat membantu Anda memberikan informasi mengenai kondisi hubungan yang Anda jalani, sehingga Anda pun dapat membuat keputusan yang paling tepat bagi Anda. Jika pasangan sudah menunjukkan tanda-tanda kekerasan atau teror, jangan ragu untuk meminta bantuan dari pihak berwajib agar Anda terhindar dari bahaya.

Bagi Anda yang merasa diri Anda seorang posesif, berusahalah untuk mengendalikan diri karena inti dari sebuah hubungan adalah saling melengkapi dan membahagiakan, bukan untuk memenuhi kepuasan satu pihak. Segeralah mencari bantuan psikologis yang dapat membantu Anda mengenali motif di balik sifat posesif tersebut dan memperbaiki diri demi membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Artikel Kesehatan