WASPADA!!! Gangguan-gangguan Psikologis Ini Seringkali Dianggap Perilaku ”Diet dan Olahraga Normal”


Bentuk tubuh yang ideal telah menjadi dambaan semua orang. Siapa yang tidak mau memiliki tubuh langsing seperti para model di Catwalk ataupun tubuh sixpack nan kekar seperti aktor-aktor Hollywood. Memang, persepsi atas bentuk tubuh yang ideal sangat dipengaruhi oleh media televisi dan internet yang terus menerus menampilkannya. Berbagai cara dilakukan untuk mencapai bentuk tubuh ideal, seperti diet dan olah raga. Namun, terdapat beberapa perilaku diet dan olahraga yang terlihat”normal” tetapi perlu dicurigai. Berikut gangguan-gangguan psikologis yang seringkali terlihat sebagai perilaku diet dan olahraga untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal sesuai dengan DSM-IV-TR.

 

Eating Disorder atau Gangguan Makan

Gangguan makan ditandai dengan perilaku makan yang buruk dan adanya ketakutan akan ”kegemukan”. Pandangan akan ”kegemukan” inilah yang membedakan Gangguan Makan dengan gangguan lain yang menyerupai pola hidup sehat. Secara umum, gangguan makan terbagi menjadi dua, Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa. Prevalensi Gangguan Makan lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Gangguan pada organ pencernaan, amenorhea, malnutrisi, bahkan kematian menjadi risiko yang dapat dialami oleh seorang penderita gangguan makan.

Anorexia Nervosa (AN) ditandai dengan ketakutan yang intens akan bertambahnya berat badan, walaupun mereka telah memiliki tubuh yang sangat kurus. Orang-orang yang menderita AN memiliki persepsi yang terganggu atas bentuk dan ukuran tubuh mereka, yang mana mereka terus merasa kegemukan. Biasanya, mereka memiliki Body Mass Index (BMI) di bawah normal, yaitu di bawah 17,5 kg/m2 sehingga terlihat sangat kurus. Sebelum mencapai berat tubuh yang sangat kurus, mereka biasanya memiliki ukuran tubuh yang cenderung normal. Itulah mengapa sulit membedakan AN dengan orang yang sedang melakukan diet. Mereka hanya terlihat menghindari makan dan minuman yang berkalori dan berlemak tinggi. Namun, disadari atau tidak, sebenarnya orang-orang dengan AN TEROBSESI untuk menghindari asupan kalori.  Mereka hanya mengkonsumsi asupan kalori dalam jumlah yang sangat sedikit dan jika asupan kalori tersebut dirasa sudah ”terlalu banyak”, berbagai usaha pun dilakukan untuk mengeluarkannya, seperti memuntahkan, olahraga berlebihan, serta konsumsi obat-obat pencahar dan/atau obat diet.

Berbeda dengan AN, Bulimia Nervosa (BN) ditandai dengan adanya pola makan dengan porsi yang berlebihan (binge eating) dan disertai dengan usaha yang tidak tepat untuk mencegah kenaikan berat badan. Perilaku binge eating pada BN terjadi dalam beberapa periode makan dalam satu minggu. Biasanya, orang-orang penderita BN memiliki BMI yang normal. Sama seperti AN, usaha yang dilakukan untuk mengeluarkan kelebihan kalori dilakukan dengan memuntahkannya, mengkonsumsi obat-obat pencahar dan/atau obat diet, namun ada pula usaha yang terlihat ”cukup” sehat, seperti berpuasa dan berolahraga secara berlebihan. Perilaku memuntahkan dan mengkonsumsi obat-obat pencahar dan/atau obat diet pada AN dan BN biasanya tidak diketahui oleh orang lain. Secara umum, hanya perilaku puasa dan berolahraga lah yang terlihat sehingga tidak ada yang menaruh curiga atas kebiasaan yang menyerupai ”normal” tersebut.

 

Body Dysmorphic Disorder (BDD)


BDD atau yang dulu dikenal dengan istilah Dysmorphophobia memiliki ciri fokus

sederhana seperti warna kulit, warna gigi, rambut yang menipis, bentuk tubuh atau wajah yang tidak simetris, keberadaan bulu-bulu halus, bahkan tahi lalat dirasa sangat mengganggu. Orang tersebut akan berusaha untuk “memperbaikinya” dengan cara yang terlihat sangat berlebihan. Prevalensi gender mengenai BDD ini seimbang, artinya pria dan wanita memiliki risiko yang sama untuk mengalaminya. Gangguan ini biasanya dimulai dari usia remaja, namun ada juga yang sudah mengalaminya sedari kecil dan biasanya tidak mudah dikenali. yang berlebihan pada bagian tubuh yang, secara subyektif, dianggap tidak sempurna atau ganjil. Hal-hal 


Orang-orang penderita BDD merasa sangat tidak percaya diri atas ”kekurangan fisiknya”, sehingga mereka seringkali terlihat menghabiskan waktu yang lama untuk memeriksa kembali kesempurnaan penampilan fisik mereka (contoh: berkaca), bahkan ada yang sampai memilih untuk mengurung diri di rumah dan menghindari pertemuan


Pada usaha yang ekstrim, gangguan ini dapat berupa tindakan operasi plastik yang terus menerus dan tidak pernah puas atas hasil yang didapat dari perubahan fisiknya. Contoh penderita BDD yang paling terkenal adalah Michael Jackson. Pada kasus yang tidak terlalu ekstrim, olahraga yang bertujuan untuk pembentukan tubuh (contoh: angkat beban) jika dilakukan secara berlebihan pun menjadi salah satu contoh BDD. Mereka terus berusaha menyempurnakannya dengan olahraga berat, diet ketat, bahkan konsumsi suplemen untuk pembentukan otot. Secara umum, tidak ada yang akan menganggap aneh seseorang yang berolahraga kan? Namun, jika Anda menjadi terlalu TEROBSESI dengan bentuk tubuh ”idaman” dan merasa tidak pernah puas atas bentuk tubuh Anda, hal itu dapat dicurigai. dengan orang lain jika ia merasa ”kekurangan fisik” tersebut tidak dapat ditutupi. Usaha yang mereka lakukan pun beragam dan memiliki tingkat risiko yang berbeda. Keadaan tersebut jelas berdampak negatif pada kehidupan sosial dan berbahaya bagi kesehatan mereka.

 

Bagaimana solusinya?

Masalah yang menjadi dasar munculnya Gangguan Makan dan BDD adalah persepsi terhadap gambaran fisik yang ideal.Mereka memiliki pemikiran subyektif atas gambaran fisik ideal tersebut, contohnya ”jika saya tidak cantik/tampan, tidak akan ada yang mau berteman dengan saya”, ”jika saya menjadi gemuk, kekasih saya akan mememutuskan hubungan ini”, dan lainnya. Salah satu terapi psikologi yang efektif diterapkan pada Gangguan Makan dan BDD adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang bertujuan memodifikasi pemikiran subyektif sehingga dapat mempengaruhi perasaan dan pola perilaku seseorang terhadap persepsi gambaran fisik ideal mereka.

Karena Gangguan Makan dan BDD seringkali disertai dengan simtom depresi dan kecemasan, pemberian terapi obat seperti antidepressant dan antianxietas dengan pengawasan dokter spesialis psikiatri (psikiater) pun dibutuhkan untuk mencapai perkembangan yang optimal. Selain terapi psikologi dan psikiatri, seseorang yang mengalami Gangguan Makan dan BDD juga membutuhkan penanganan ahli lain jika terdapat gangguan medis yang menyertainya.

Artikel Kesehatan